Lanjutkan ke konten utama Lanjutkan ke situs di bawah

You are using an outdated browser. Please upgrade your browser to improve your experience.

Tahun Demokrasi: apa cerita besarnya?

2 bulan yang lalu

Tahun Demokrasi: apa cerita besarnya?

Tahun ini telah digembar-gemborkan sebagai tahun pemilu global terbesar dalam sejarah. Lebih dari 60 negara sudah terkonfirmasi atau kemungkinan akan mengikuti pemilu pada tahun 2024, atau mencakup 48% populasi dunia. Termasuk di antaranya adalah tiga negara demokrasi terbesar di dunia yaitu AS, India, dan Indonesia. Kami mempertimbangkan kemungkinan dampaknya terhadap pasar keuangan.

Meskipun angka-angkanya mengesankan, besarnya potensi hasil pemilu ini menjadikan tahun ini juga dijuluki sebagai ‘Tahun Ketidakpastian’. Di beberapa rezim, yang kepemimpinannya mungkin dianggap lebih otoriter, dampaknya mungkin sudah pasti. Namun di negara lain, hasil pemilu lebih sulit diprediksi secara pasti, dan kebijakan yang ada bisa saja dibatalkan.

Hal yang paling menarik bagi pasar tahun ini adalah pemilihan presiden AS pada tanggal 5 November. Kontes ini tampaknya akan mempertemukan petahana Joe Biden melawan mantan presiden Donald Trump. Masa jabatan pertama Biden ditandai dengan stimulus fiskal yang besar, yang bertujuan untuk menghijaukan perekonomian AS. Biden juga menegaskan kembali komitmen AS terhadap aliansi keamanan internasional seperti NATO, serta bergabung kembali dengan Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim. Perubahan pemerintahan dapat mengubah keputusan-keputusan ini. Bahkan mungkin akan meningkatkan eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok.

AI dapat memainkan perannya sendiri pada tahun pemilu ini. Para pakar memperingatkan bahaya AI yang menghasilkan konten media palsu, dengan mengatakan “pemalsuan deepfake politik telah tiba.” Memang benar, pemilihan primary di New Hampshire sempat dibingungkan oleh video palsu yang menunjukkan Presiden Biden mendesak masyarakat untuk tidak memilih sama sekali. Pemilih perlu kehati-hatian ekstra dalam memilih kandidat. Kelompok advokasi konsumen telah memperingatkan kekacauan pemilu.

Bangkitnya populisme, yang di beberapa daerah didorong oleh migrasi yang tidak terkendali, dapat mengubah kesetiaan para pemilih yang sudah lama dipegang. Dan para pemimpin baru dengan pandangan politik yang lebih ekstrem dapat menimbulkan kekhawatiran di pasar keuangan. Namun dalam pandangan yang lebih luas, geopolitik dianggap sebagai risiko terbesar bagi pasar tahun ini. Kekhawatirannya mencakup peningkatan konflik Timur Tengah atau peningkatan ketegangan perdagangan AS-Tiongkok. Meskipun demikian, ketidakpastian atas hasil pemilu dapat memicu perubahan sentimen jangka pendek, sehingga kemungkinan besar pasar akan menghadapi volatilitas sepanjang tahun yang penting ini.

Situs ini menggunakan cookie untuk memastikan pembaca memperoleh pengalaman yang terbaik di situs kami. Pelajari lebih lanjut.