Lanjutkan ke konten utama Lanjutkan ke situs di bawah

You are using an outdated browser. Please upgrade your browser to improve your experience.

Re-globalisasi: apa cerita besarnya?

6 bulan yang lalu

CLOSE LOOK
Re-globalisasi: apa cerita besarnya?

Beberapa tahun terakhir, yang ditandai dengan pandemi global dan ketegangan geopolitik, telah membawa periode de-globalisasi dalam perdagangan dunia. Namun, meskipun ada gangguan terhadap tatanan perdagangan yang sudah ada, dengan perluasan rantai pasokan, pola perdagangan baru terus bermunculan. Hal ini mengarah pada terbentuknya hubungan pasokan global yang berbeda. Kami menelusuri perkembangan tren ini, yang digambarkan oleh World Trade Organisation (WTO) dalam laporan tahunannya sebagai ‘re-globalisasi’.

Pertama, mari kita melihat kembali era globalisasi. Era ini dimulai pada awal tahun 1990an, ketika negara-negara maju mulai melakukan outsourcing produksi komponen ke negara-negara dengan biaya lebih rendah. Target mereka adalah efisiensi yang lebih besar, yang mengarah pada pengurangan biaya. Caranya hanya dengan memecah proses produksi menjadi beberapa tahapan. Hal ini kemudian dapat dilakukan di negara-negara lain yang tersebar luas di seluruh dunia, dengan memanfaatkan spesialisasi regional. Perekonomian Tiongkok sangat cocok dengan tren ini, sehingga Tiongkok segera dikenal sebagai ‘pabrik dunia’.

Munculnya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 menjadi lonceng kematian bagi globalisasi perdagangan. Gangguan yang terjadi pada rantai pasok yang berjalan dengan baik mengakibatkan inefisiensi, kemacetan, dan peningkatan biaya, yang pada akhirnya akan memicu inflasi. Invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 juga menghambat lebih lanjut pola perdagangan global, seiring dengan terbentuknya kembali aliansi global. Perusahaan manufaktur multinasional bergegas membentuk aliansi re-shoring atau friends-shoring, untuk menjamin pasokan komponen mereka. Aliansi baru ini mungkin memerlukan waktu untuk terbentuk, namun pada akhirnya akan menghasilkan rantai pasokan global yang lebih terdiversifikasi.

Integrasi perdagangan global yang baru ini digambarkan sebagai re-globalisasi. Hal ini melibatkan perusahaan-perusahaan yang mengalihkan rantai pasokan mereka ke negara-negara sekutu, meskipun negara-negara tersebut mungkin belum menjadi pemasok yang paling efisien. Terlepas dari kesulitan-kesulitan yang diuraikan di atas, WTO mencatat bahwa perdagangan global terus berkembang, sebagian didorong oleh perluasan layanan digital dan perdagangan barang-barang ramah lingkungan. Pada tahun 2022, nilai perdagangan barang dunia naik 12% menjadi $25,3 triliun. Hubungan perdagangan baru menggantikan rantai pasokan yang terganggu oleh kekuatan geopolitik. Bagi perusahaan multinasional, penekanannya sekarang adalah pada ketahanan dan keandalan mereka.

WTO mendorong kerja sama yang lebih besar antara mitra dagang yang sebelumnya tidak saling mengenal, yang menghadapi tantangan keamanan nasional, kesenjangan kekayaan, dan perubahan iklim. Penelitian telah menunjukkan bahwa negara-negara berkembang seperti India, Vietnam dan Indonesia kemungkinan besar akan mendapatkan manfaat, mengingat biaya produksi dan profil demografis mereka. Penerima manfaat dari pasar negara maju adalah negara-negara seperti Jerman, yang memiliki tingkat produktivitas dan kebebasan berusaha yang tinggi. Meskipun Tiongkok mungkin akan kehilangan posisinya sebagai pabrik dunia, re-globalisasi sepertinya tidak akan menandakan puncak pertumbuhan ekonomi Tiongkok, melainkan akan adanya kebutuhan untuk beradaptasi dan memanfaatkan aliansi perdagangan baru.

Situs ini menggunakan cookie untuk memastikan pembaca memperoleh pengalaman yang terbaik di situs kami. Pelajari lebih lanjut.